SEKILAS INFO
: - Senin, 13-04-2026
  • 5 Tahun Yang Lalu / Jangan Lupa Penerapan 3M,  Memakai masker, Mencuci tangan Menjaga jarak dan menghindari kerumunan
  • 5 Tahun Yang Lalu / “Hidup adalah sebuah pencarian. Labuhkan pencarian hidupmu hanya pada Yang Maha Kekal, meski penuh pengorbanan. Layaknya pencarian dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang hanif. Selamat hari raya Idul Adha.”
HASDAR

METODE PENELITIAN PENDEKATAN STUDI KASUS

(John W. Creswell)

Oleh : Hasdar (Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ternate)

 

  1. Pendahuluan

Creswell dalam bukunya yang berjudul “Qualitative Inquiry And Research Design” mengungkapkan lima tradisi penelitian, yaitu: biografi, fenomenologi, grounded theory study, studi kasus dan etnografi. Salah satu tradisi yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah studi kasus yang telah lama dipandang sebagai metode penelitian yang “amat lemah”. Para peneliti yang menggunakan studi kasus dianggap melakukan “keanehan” dalam disiplin akademisnya karena tingkat ketepatannya (secara kuantitatif), objektivitas dan kekuatan penelitiannya dinilai tidak memadai.[1]

Sebagai bagian keilmuan, penelitian merupakan alat untuk menjadikan temuan dan jawaban menjadi realistis dan logis sehingga terbukti kebenaranya. Ada dua jenis kebenaran yang bisa terungkap dalam penelitian, yaitu kebenaran formal dan kebenaran substansial. Kebenaran formal bisa diperoleh melalui metodologi yang dilandasi oleh paradigm yang tepat sedangkan kebenaran substansial diperoleh melalui kajian teori yang mendalam.

Walaupun demikian, studi kasus tetap dipergunakan secara luas dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, baik dalam bidang psikologi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah dan ekonomi maupun dalam bidang ilmuilmu praktis seperti pendidikan, perencanaan wilayah perkotaan, administrasi umum, ilmu-ilmu manajemen dan lain sebagainya. Bahkan sering juga diaplikasikan untuk penelitian evaluasi yang menurut sebagian pihak merupakan bidang metode yang sarat dengan kuantitatifnya. Semuanya ini merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dipertanyakan bahwa apabila studi kasus itu memiliki kelemahan, mengapa para peneliti menggunakannya? Oleh karena itu bab ini akan mengkaji: Apakah itu studi kasus? Bagaimana menggunakan teori dan pertanyaan penelitian dalam studi kasus? Bagaimana pengumpulan data studi kasus? Bagaimana analisis data studi kasus? Bagaimana penulisan laporan studi kasus? Bagaimana melakukan standar kualitas dan verifikasi dalam studi kasus? berdasarkan buku John W. Creswell.

 

  1. Penelitian Studi Kasus

2.1. Pengertian Penelitian Studi Kasus

Studi Kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case Studies”. Kata “Kasus” diambil dari kata “Case” yang menurut Kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1989; 173), diartikan sebagai 1). “instance or example of the occurance of sth., 2). “actual state of affairs; situation”, dan 3). “circumstances or special conditions relating to a person or thing”. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu. [2]

Secara lebih teknis, meminjam Louis Smith, Stake menjelaskan kasus (case) yang dimaksudkan sebagai a“bounded system”, sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri. Sebab, hakikatnya karena sulit memahami sebuah kasus tanpa memperhatikan kasus yang lain. Ada bagian-bagian lain yang bekerja untuk sistem tersebut secara integratif dan terpola. Karena tidak berdiri sendiri, maka sebuah kasus hanya bisa dipahami ketika peneliti juga memahami kasus lain. Jika ada beberapa kasus di suatu lembaga atau organisasi, peneliti Studi Kasus sebaiknya memilih satu kasus terpilih saja atas dasar prioritas. Tetapi jika ada lebih dari satu kasus yang sama-sama menariknya sehingga penelitiannya menjadi Studi Multi-Kasus, maka peneliti harus menguasai kesemuanya dengan baik untuk selanjutnya membandingkannya satu dengan yang lain.

Studi kasus merupakan penelitian dimana peneliti menggali suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan (program, even, proses, institusi atau kelompok sosial) serta mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu. Selanjutnya Creswell mengungkapkan bahwa apabila kita akan memilih studi untuk suatu kasus, dapat dipilih dari beberapa program studi atau sebuah program studi dengan menggunakan berbagai sumber informasi yang meliputi: observasi, wawancara, materi audio-visual, dokumentasi dan laporan. Konteks kasus dapat “mensituasikan” kasus di dalam settingnya yang terdiri dari setting fisik maupun setting sosial, sejarah atau setting ekonomi. Sedangkan fokus di dalam suatu kasus dapat dilihat dari keunikannya, memerlukan suatu studi (studi kasus intrinsik) atau dapat pula menjadi suatu isu (isu-isu) dengan menggunakan kasus sebagai instrumen untuk menggambarkan isu tersebut (studi kasus instrumental). Ketika suatu kasus diteliti lebih dari satu kasus hendaknya mengacu pada studi kasus kolektif. Untuk itu Lincoln Guba mengungkapkan bahwa struktur studi kasus terdiri dari masalah, konteks, isu dan pelajaran yang dipelajari.[3]

 

 

 

 

2.2. Tujuan dan Jenis Penelitian Studi Kasus

Pada umumnya penelitian mengkaji hanya hal-hal yang bersifat umum, memiiliki kesamaan yang hampir pola dan hasilnya serupa. Menurut Dr. Suwartono, M.Hum (2014:125) kesimpulan yang diperoleh dari studi kasus tidak bisa digeneralisasikan atau diasumsikan berlaku pada subjek lain, kecuali individu atau kelompok subjek yang memiliki karakteristik serupa. menurut Yin (2002) studi kasus sebagai proses penelitian. “A case study is an empirical inquiry that investigates a contemporary phenomenon (the ‘case’) within its real-life context, especially when the boundaries between phenomenon and context may not clearly evident” (p.16). Sebuah studi kasus penelitian yang memiliki tujuan guna menguji pertanyaan dan masalah penelitian yang mana hal itu terlepas dari konteksnya.

Stake (1994) menyatakan bahwa penelitian studi kasus bertujuan untuk mengungkap kekhasan atau keunikan krakteristik yang terdapat didalam kasus yang diteliti. kasus itu sendiri merupakan penyebab dilakukanya penelitian studi kasus oleh karena itu tujuan dan fokus utama dari penelitian studi kasus adalah pada kasus yang menjadi objek penelitian. Kasus itu bisa ada dan ditemukan hampir disemua bidang, oleh karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus seperti sifat alamiah kasus, kegiatan, fungsi, kesejarahan, kondisi lingkungan dan berbagai hal lain yang berkaitan dan mempengaruhi kasus harus diteliti dengan tujuan untuk menjelaskan dan memahami keberadaan kasus tersebut secara menyeluruh dan komprehensif. Ada beberapa jenis studi kasus yang sering ditemukan dalam penelitian. Menurut Yin (2002) membagi studi kasus menjadi, studi kasus eksplanatori, eksploratori, diskriptif. Pertama studi kasus eksplanatori. Studi kasus explanatori merupakan studi kasus yang kompleks da multivarian biasanya pada studi kasus explanatory ini digunakan dalam studi kausal. Karena model yang ad pada studi kausu explanatory tepat menggunakan system pencocokan pola. Kedua, Studi kasus eksploratori, Proses pengumpulan data dilapangan dapat dilakukan sebelum adanya pertanyaan peneliti dan biasanya model penelitian seperti ini di anggap sebagai studi pendahuluan dan penelitian sosial. walaupun proses data dilakukan sebelum adanya pertanyaan tetap kerangka kerja penelitiap haruslah sudah dibuat sebelumnya. Ketiga, studi kasus diskriptif, pada jenis studikasus ini semua kesimpulan akan di jabarkan dengan bentuk diskripsi yang di kaitkan dengan teori dan temuan.

 2.3. Kelebihan Penelitian Studi Kasus

  1. Studi kasus mampu mengungkap hal-hal yang spesifik, unik dan hal-hal yang amat mendetail yang tidak dapat diungkap oleh studi yang lain. Studi kasus mampu mengungkap makna di balik fenomena dalam kondisi apa adanya atau natural.
  2. Studi kasus tidak sekedar memberi laporan faktual, tetapi juga memberi nuansa, suasana kebatinan dan pikiran-pikiran yang berkembang dalam kasus yang menjadi bahan studi yang tidak dapat ditangkap oleh penelitian kuantitatif yang sangat ketat.[4]

2.4. Kelemahan Penelitian Studi Kasus

Dari kacamata penelitian kuantitatif, studi kasus dipersoalkan dari segi validitas, reliabilitas dan generalisasi. Namun studi kasus yang sifatnya unik dan kualitatif tidak dapat diukur dengan parameter yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yang bertujuan untuk mencari generalisasi.

Validitas
Validitas dalam penelitian kualitatif berarti “kesesuaian” dari alat, proses, dan data. Apakah pertanyaan penelitian ini valid untuk hasil yang diinginkan, pilihan metodologi yang tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian, perancangannya valid untuk metodologi, pengambilan sampel dan analisis data sesuai, dan akhirnya hasil dan kesimpulannya valid untuk sampel dan konteks.

Reliabilitas
Dalam penelitian kuantitatif, reliabilitas mengacu pada kemampuan meniru proses dan hasilnya. Dalam penelitian kualitatif dengan paradigma yang beragam, definisi keandalan seperti itu menantang dan kontra intuitif secara epistemologis. Oleh karena itu, esensi reliabilitas untuk penelitian kualitatif terletak pada konsistensi. Margin variabilitas untuk hasil ditoleransi dalam penelitian kualitatif asalkan metodologi dan logistik epistemologis konsisten menghasilkan data yang secara ontologis serupa namun mungkin berbeda dalam kekayaan dan suasana dalam dimensi yang serupa.

Generalisasi
Sebagian besar penelitian kualitatif, jika tidak semua, dimaksudkan untuk mempelajari isu atau fenomena pada populasi atau kelompok etnis tertentu, dari wilayah yang terfokus dalam konteks tertentu, karenanya generalisasi dari temuan penelitian kualitatif biasanya bukanlah atribut yang diharapkan. Namun, dengan meningkatnya tren sintesis pengetahuan dari penelitian kualitatif melalui meta-sintesis, meta-naratif atau meta-etnografi, evaluasi terhadap generalisasi menjadi penting. Pendekatan pragmatis untuk menilai generalisasi untuk studi kualitatif adalah dengan mengadopsi kriteria yang sama untuk validitas, yaitu: penggunaan sampling sistematis, triangulasi dan perbandingan konstan, audit dan dokumentasi yang tepat, dan teori multi-dimensi.

2.5. Langkah-langkah Penelitian Studi Kasus[5]

Dalam pelaksanaan kajian atau penelitian studi kasus, maka tidak akan lepas dengan poses yang secara teratur dan berkelanjutan. Beberapa tahapan yang harus dilalui oleh peneliti diantaranya:

2.5.1. Pemilihan Tema atau Topik Penelitian

Tema atau topic dalam penelitian menjadi hal sangat penting dalam kajian studi kasus. Hal ini disebabkan tema adalah “body of knowledge” begitu penting pemilihan tema maka alangkah baiknya peneliti haruslah melihat latar belakang akademisi yang menji bagian dari keilmuanya. Sebagai contok seorang mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris, maka wajiblah dalam menentukan tema penelitian yang berkaitan dengan kasusu-kasus yang sering muncul di bidang pendidikan Bahasa Inggris, sehingga hasil kajian peneliatnya akan mendalam dan komprehensif karena sesua dengan bidang keilmuanya.

2.5.2. Kajian Teori Penelitian

Pada tahapan kedua ini, peneliti harus mau dan siap untuk membaca dan juga menelaah kajian teori-teori, yang ada pada buku bacaan, jurnal, majalah ilmiah, surat kabar dan juga laporan penelitian terdahulu. Menurut Yin (1994: 9) pembacaan literatur sangat penting untuk memperluas wawasan peneliti di bidang yang akan diteliti dan mempertajam rumusan masalah yang akan diajukan. Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:14) memberi penjelas bahwa dalam upaya pengumpulan bahan bacaan peneliti perlu mempertimbangkan dua aspek penting, yakni relevansi (relevance) bahan bacaan/literatur tersebut dengan topik bahasan (kasus) yang diangkat dan kemutakhiran (novelty). Semakin muktahir kajian bacaan yang dibaca maka semakin baik dan relevan sesuai dengan perkembangan yang di hadapi oleh peneliti. Sering di temukan kutipan bacaan yang kurang tepat dan relevan karenatidak sesuai dengan kajian pembahasan pada bidangnya.

2.5.3. Perumusan Masalah

Pada proses perumusan masalah, peneliti di tuntut untuk lebih teliti hal apa yang akan di jadikan pokok masalah pada penelitian, menurut Dr. Suwartono (2014: 24) perumusan suatu permasalahan perlu dilakukan untuk memperjelas masalah yang dihadapi. Untuk menghindari kurang mendalamnya hasil penelitian. Maka seorang peneliti bisa mengfokuskan pada titik yang menjadi pusat perhatian.

2.5.4. Pengumpulan Data

Menurut Dr. Suwartono, M. Hum (2014:41) pengumpulan data adalah berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan data, menghimpun, mengambil atau menjaring data penelitian. Pada proses pengumpulan data studi kasus, peneliti dapat menggunakan beberapa teknik diantarantanya adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada tahapan ini peneliti mempunyai peranan yang sangat penting hal itu dikarenakan penelitilah yang bisa menyimpulkan kapan waktu untuk memulai dan mengakhiri penelitian dan juga mampu mengukur data yang dibutuhkan sudah cukup.

2.5.5. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data menjadi bagian terpenting pada penelitian, setelah proses mencarian informasi dilakukan dan dianggap cukup tahap selanjutnya adalah pengumpulan data. Pada proses ini , peneliti harus mengecek setiap data, menyusun data, melakukan pengkodingan pada data, mengklasifikasi data, dan mengoreksi jawaban atas hasil wawancara yang dianggap masih kurang jelas.

Setelah data terkumpul baik melalui, hasil wawancara dan observasi, dukumentasi dalam bentuk gambar atau photo. Data akan di olah oleh peneliti. Menurut Dr. Suwartono, M. Hum (2014:79) istilah “olah” atau “proses” data inilah penulis sering mengunakan untuk mengganti kata “Analisis” yang lebih terkesan rumit. Pada proses analisis data. Menurut Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si (2017:20) Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk memberikan makna atau memaknai data dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya menjadi bagian-bagian berdasarkan pengelompokan tertentu sehingga diperoleh suatu temuan terhadap rumusan masalah yang diajukan. Untuk dapat menyimpulkan hasil temuan pastilah tidak semudah yang kita pikirkan karena peneliti akan dituntut harus melalui tahapan-tahapan proses dan ini memerlukan ketelitian, kecerdasan tersendiri. Tidak hanya kecerdasan dan ketelitian yang menjamin akan hasil nya tepat wawasan retorika, pengalaman peneliti dan bimbingan dosen akan sangat berpengaruh terhadap informasi hasil temuan pada penelitian.

2.5.6. Kesimpulan dan Laporan Hasil Penelitian

Pada akhir proses penelitian, peneliti akan mengkroscek ,mengulang dan meringkas hasil temuan yang sudah di lakukan kemudian membuat hasil kesimpulan temuan .

Laporan pertanggung jawaban merupakan bentuk laporan yang dilakukan oleh peneliti terhadap hasil penemuan secara ilmiah. Menurut Yunus (2010: 417) ada beberapa versi mengenai laporan penelitian, tetapi secara umum terdapat 3 syarat agar laporan penelitian dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah, yaitu:

  1. Objektif,
  2. Sistematik
  3. Mengikuti metode ilmiah.

Berdasarkan standar diatas, maka hasil karya ilmiah tidaklah semudah yang kita bayangkan dan tidak asal. Pertama, Objektif , ini bermaksud hasil pemerolehan data yang didapatkan dalam penelitian adalah benar-benar data hasil dari subjek peneliti, bukan dari sudut pandang peneliti. Kedua, sistematik dalam artian pada proses penelitian ada tahapan-tahapanya, mulai dari awal sampai akhir kesimpulan dan laporan masih berkaitan. Ketiga, mengikuti methode ilmiah, maksudnya pada proses penelitian kegiatan yang dilakukan haruslah terstandar dengan alur dan tahapan yang sudah disepakati oleh para ilmuwan .

  1. Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan oleh sang kholik Alloh. S.W.T dalam bentuk akal dan pikiran. Dengan akal dan pekiran manusia mampu berpikir secara ilmiah untuk menemukan kebenaran dari misteri kehidupan. Penemuan kebenaran melalui proses berpikir secara ilmiah tentu membutuhkan proses dan metode yang akurat dan tepat. Beberapa metode penelitian yang sering digunakan untuk mengungkap sebuah kasus di bidang sosial salah satunya adalah metode studi kasus. Studi kasus menjadi metode penelitian yang memberikan kontribusi mendalam dalam mengungkap permasalahan atau kasus tertentu baik lingkup individu, kelompok atau organisasi.

Studi kasus sebagai bagian metode penelitian memberikan kerangka tertentu pada tahapan-tahapan prosesnya, dianatara nya. menentukan tema dan subjek penelitian, menentukan tempat, menentukan metode yang akurat, menentukan teknik pengumpulan data yang relevan, menganalisis hasil data yang di peroleh dari subjek penelitian, membuat kesimpulan dan laporan penelitian. Hasil temuan dapat di katakana ilmiah jika memenuhi standar Objektif, sistematik dan mengikuti prosedur ilmiah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Wahyuningsih Sri. 2013. Metode Penelitian Studi Kasus, Madura : UTM Press

Dewi prima radix, 2019. Studi Kasus. Jurnal Of Indonesian Islam

Bukhari Sayid. (2019, 5 April) Penelitian Studi Kasus. https://sayidbukhari.blogspot.com/

Hidayat Taufik (2019 Agustus)  “Pembahasan Studi Kasus Sebagai Bagian Metodologi https://www.researchgate.net

[1] Sri Wahyuningsih, Metode Penelitian Studi Kasus, (Madura: UTM Prees, 2013), hlm. 1.

[2] Radix Prima Dewi, “Studi Kasus”, Journal of Indonesian Islam, Edisi 21, Februari 2019, hlm. 1.

 

[3]  Wahyuningsih, Loc. Cit

[4] Sayid Bukhari, “Penelitian Studi Kasus”, , Edisi 5 April 2016,

https://sayidbukhari.blogspot.com/

 

[5] Taufik Hidayat, “Pembahasan Studi Kasus Sebagai Bagian Metodologi Penelitian” Agustus 2019.

https://www.researchgate.net

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman

Simulasi USBK

MTs Negeri 1 Sanana Akan Melaksanakan Les Bahasa dalam menunjang kemampuan Interpersonal skill

MTs Negeri 1 Sanana melaksanakan Penilaian Akhir Semester akhir bulan November